Masjid Raya Sultan Riau di Pulau Penyengat, Tanjungpinang, bukan hanya tempat ibadah tetapi juga mahakarya arsitektur dan simbol kejayaan Kesultanan Riau-Lingga. Dikenal sebagai masjid berkubah pertama di Nusantara, bangunan ini memukau melalui perpaduan harmonis antara arsitektur Timur Tengah, Melayu, dan pengaruh India.
Dibangun kembali pada tahun 1832 oleh Raja Abdurrahman VII dengan gotong-royong sekitar 5.000 warga, struktur masjid awalnya terbuat dari kayu dan bata. Kini berdiri bangunan beton berukuran 29,3?×?19,5?m, dikelilingi tembok setebal 50?cm dalam lahan seluas 54?×?32?m. Warna kuning cerah berpadu atap hijau mempertegas identitas Melayu kedua warna ini kini menjadi ikon visual pulau Penyengat.
Salah satu keunikan masjid ini terletak pada jumlah dan penataan elemen simbolisnya:
13 kubah dan 4 menara, jumlahnya menjadi 17, melambangkan total rakaat 5 waktu salat.
Tangga utama terdiri dari 13 anak tangga (rukun salat), 5 pintu (rukun Islam), dan 6 jendela (rukun Iman).
Selain simbolisme agama, campuran putih telur dalam mortar bangunan adalah cerita unik lokal: sisa putih telur sumbangan warga digunakan sebagai perekat alami untuk memperkuat struktur bangunan.
Arsitektur masjid sendiri memadukan kubah ala Timur Tengah dan menara mirip gaya Turki-Bizantium dengan unsur Melayu di struktur kebonpanggung (sotoh) di halaman kanan-kiri, difungsikan untuk berkumpul dan belajar. Interior menunjukkan pengaruh Mughal India, seperti lengkung kubah dan ornamen ukiran pada mimbar jati Jepara yang masih dipakai dan diperkirakan dipesan dari sana.
Masjid ini juga menyimpan banyak nilai sejarah dan artefak: mimbar ukir dari Jepara, Al-Qur'an tulisan tangan oleh Abdurrahman Stambul (1867) dan Abdullah Al Bugisi (1752), lampu kristal hadiah dari Kerajaan Prusia, bahkan pasir suci dari Makkah untuk tradisi jejak tanah.
Secara spiritual dan sosial, masjid ini tetap aktif digunakan terutama pada bulan Ramadan untuk tahlil, kenduri arwah, dan buka puasa kelompok. Masjid juga menjadi pusat wisata religi, menarik wisatawan dari dalam negeri serta Malaysia dan Singapura.
Kini Masjid Raya Sultan Riau juga berstatus cagar budaya nasional dan telah melalui revitalisasi modern perbaikan menara, rubah tata halaman, penataan ruang dokumenter, penggantian karpet dan lampu dari Turki dan Jerman sepenuhnya mempertahankan nilai historisnya.
Mengapa Masjid Ini Istimewa?
Simbol sejarah dan budaya – Pusat kekuasaan dan ilmu di era Kesultanan Riau-Lingga, didirikan lewat gotong royong; mencerminkan spirit komunitas.
Arsitektur simbolis dan estetis – Kubah dan menara untuk makna religius; gaya arsitektur unik dan paduan gaya budaya.
Artefak bersejarah – Memuat Al-Qur’an kuno, pasir Makkah, mimbar antik, dan harta budaya lainnya.
Warna cerah dan lokasi vital – Kuning-hijau cerah tampil kontras dan memukau sebagai landmark pulau.
Wisata religi hidup – Pengunjung dapat beribadah, belajar, menikmati acara budaya, dan berziarah.
Secara keseluruhan, Masjid Raya Sultan Riau tidak hanya indah secara visual, tetapi juga sarat makna spiritual, sejarah, dan budaya. Ia berdiri sebagai monumen hidup, mengajak siapa saja yang datang untuk memahami kekayaan warisan MelayuIslam.
Kesimpulan
Masjid Raya Sultan Riau di Pulau Penyengat bukan hanya sebuah tempat ibadah, tetapi juga simbol kejayaan sejarah, budaya, dan peradaban Islam Melayu di Kepulauan Riau. Dengan arsitektur unik yang memadukan gaya Timur Tengah, India, dan Melayu, masjid ini tampil megah dengan warna kuning cerah dan hijau yang mencolok, menjadi landmark penting yang mencerminkan identitas lokal. Keunikan bangunannya tidak hanya terletak pada bentuk fisik, tetapi juga pada simbolisme mendalam yang tertanam dalam jumlah kubah, menara, tangga, dan jendela semuanya memiliki makna religius yang kuat. Kisah pembangunan masjid ini, yang melibatkan gotong royong masyarakat dan penggunaan putih telur sebagai bahan perekat, menambah nilai historis dan kekayaan cerita budaya yang mengesankan. Selain itu, masjid ini juga menyimpan artefak penting seperti Al-Qur’an tulisan tangan, mimbar ukir Jepara, lampu kristal dari luar negeri, hingga pasir dari Makkah. Semuanya menjadikan masjid ini tidak hanya pusat spiritual, tetapi juga pusat pembelajaran sejarah dan budaya. Dengan berbagai fasilitas yang terus diperbarui dan tetap mempertahankan keasliannya, Masjid Raya Sultan Riau layak disebut sebagai permata sejarah dan destinasi wisata religi yang sangat memukau.